Selama lebih dari 600 tahun, Kekaisaran Ottoman menguasai sebagian besar wilayah Timur Tengah dan Eropa Timur. Kekaisaran ini didirikan pada 1299 dan bubar pada 1923, digantikan oleh Republik Türkiye. Pada masa awal, Osman I, seorang kepala suku Turki di Anatolia, mendirikan Kekaisaran Ottoman. Osman I memperluas kekuasaan, membawa banyak negara bagian Anatolia di bawah kendalnya. Di antara bangsa yang ditaklukkan, Osman membentuk pemerintahan formal dan memberi kebebasan beragama.
Istanbul dalam Kekaisaran Ottoman
Kesultanan Ottoman mulai meluas selama 150 tahun berikutnya. Dinasti Bizantium adalah kerajaan terkuat di wilayah itu pada masa itu (Kekaisaran Romawi Timur). Mehmed II sang Penakluk memimpin Ottoman untuk menakluk Konstantinopel, ibu kota Kekaisaran Bizantium, pada 1453. Ia mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul dan menjadikannya ibu kota Kekaisaran Ottoman. Ottoman kemudian menjadi salah satu kekaisaran terbesar dan terkuat di dunia selama beberapa abad berikutnya.
Ketika Ottoman menaklukkan Konstantinopel, banyak ilmuwan dan seniman melarikan diri ke Italia. Hal ini membantu kemunculan Renaisans di Eropa. Peristiwa ini juga mendorong negara-negara Eropa mencari jalur perdagangan baru ke Timur, memulai Era Penjelajahan.
Suleiman Yang Mulia
Pada masa pemerintahan Suleiman Yang Mulia, Kekaisaran Ottoman mencapai puncaknya. Dari 1520 hingga 1566, ia memimpin. Dalam periode ini, kekaisaran meluas ke sebagian besar Eropa Timur, termasuk Yunani dan Hungaria.
Suleiman Yang Mulia dipandang sebagai raja duniawi bagi umat Islam. Bangsa Ottoman memberinya julukan "Pembuat Hukum".
Pada akhir abad ke-17, Kekaisaran Ottoman mulai mengalami kemunduran. Wilayahnya meluas, namun menghadapi tantangan ekonomi dengan India dan Eropa. Birokrasi internal dan manajemen yang lemah mempercepat keruntuhan kekaisaran hingga 1923, ketika dinasti tersebut dibubarkan dan Türkiye mendeklarasikan republik.
Dalam Kekaisaran Ottoman, agama memiliki peran sangat penting. Meskipun Ottoman beragama Islam, mereka tidak memaksa penduduk yang ditaklukkan untuk berpindah keyakinan. Mereka membiarkan umat Kristen dan Yahudi beribadah tanpa takut ditindas. Hal ini membantu menjaga stabilitas dan memperpanjang masa kejayaan. Di antara bangunan keagamaan paling ikonik milik Ottoman, kita temukan Masjid Hagia Sophia dan Gereja Chora. Saat Anda bepergian ke Istanbul, Anda akan menemukan lebih banyak gereja dan masjid yang mencerminkan keragaman kota ini.
Sultan Ottoman
Sultan adalah gelar bagi penguasa Kekaisaran Ottoman. Anak laki-laki tertua biasanya mewarisi tahta. Ketika seorang Sultan baru naik, ia sering menahan saudara-saudaranya dan mengeksekusinya hingga ia memiliki pewaris.
Sultan dan para istrinya tinggal di Istana Topkapi di Istanbul. Fakta menarik, karena takut dibunuh, sang Sultan sering berpindah ke bagian lain di dalam istana pada malam hari!
Hemat Waktu dan Uang dengan Istanbul Tourist Pass!
Istanbul Tourist Pass dibutuhkan bagi pelancong pertama maupun yang kembali ke kota budaya ini. Pass memberi akses ke lebih dari 85 atraksi sambil tetap menghemat uang. Dengan Istanbul Tourist Pass, Anda bisa menghemat hingga 75 persen. Pass juga menghemat waktu karena Anda tidak perlu mengantri tiket. Cukup tampilkan pass di ponsel Anda, lalu Anda bebas berkeliling. Ada berbagai manfaat lain yang disertakan Pass ini bisa Anda cek!